“Anything a Man can do, I can do it”. Rasanya ungkapan itu (harusnya) mulai bisa diterapkan saat ini, khususnya untuk perempuan Indonesia.
Berawal dari apa itu Gender. Gender bisa dikatakan sebagai persepsi masyarakat yang mengacu pada peran, perilaku, ekspresi, dan identitas seseorang baik laki-laki maupun perempuan. Gender biasanya diasosiasikan dengan istilah maskulin dan feminim. Maskulin dihubungkan dengan sifat kelaki-lakian seperti gagah, kuat dan memimpin. Sedangkan feminism dihubungkan dengan sifat perempuan seperti mengayomi, lemah lembut dan perasa.
Kesetaraan gender menjadi salah satu hal yang penting untuk saat ini, mengapa? sebab kesetaraan gender bisa menghapuskan segala bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering dialami oleh perempuan, mengakhiri bentuk diskriminasi dalam dunia kerja, memiliki hak atas pendidikan yang sama tinggi dengan pria, dan lain sebagainya.
Dibanding 10 negara ASEAN lainnya, Indonesia berada di urutan ke-4 teratas yang memiliki ketimpangan gender. Tingginya ketimpangan di Indonesia, tidak hanya bersalah dari lemahnya komitmen pemerintah dalam menerapkat Pengarusutamaan Gender (PUG) tetapi juga karena lemahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, lemahnya ekonomi masyarakat dan lain sebagainya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Nazilla, alumni Bahrul ‘Ulum yang juga aktivis Women For Indonesia. Menurutnya keadaan di Indonesia masih miris, semua perempuan belum bisa dibilang setara dan terpenuhi haknya. Di kota – kota besar mungkin tidak terlalu terasa, tetapi di daerah pelosok masih sangat terlihat. Misalnya saja kekerasan pada perempuan, pernikahan dini, bahkan perdagangan perempuan masih banyak. Juga adanya ketimpangan dalam akses pendidikan, ekonomi, politik dan sosial budaya.
Banyak solusi yang bisa ditawarkan, pemerintah sendiri dalam forum G-20 menyampaikan upaya mengurangi kesenjangan gender di tempat kerja serta meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan di dunia kerja. Selain itu terdapat pula perlindungan sosial bagi pekerja perempuan dan upaya meningkatkan kepedulian dalam menyediakan fasilitas kesejahteraan bagi pekerja perempuan. Dari non pemerintah pun juga ada sendiri. Tapi, yang perlu diruntuhkan lebih dulu adalah stigmanya yang patriarkis. Misalnya, sekarang sudah banyak komunitas yang sudah menginisiasi perubahan dengan cara pemberdayaan ekonomi dan latihan kepemimpinan, tapi ada konflik internal dalam diri perempuan – perempuan tersebut, anggapan mereka sendiri bahwa kodrat mereka hanyalah urusan pekerjaan domestik. Banyak cara dalam mengatasi ketimpangan gender, tapi langkah tersebut rasanya tidak akan berjalan sempurna jika kita sebagai masyarakat umum tidak mempunyai kesadaran yang cukup tentang pentingnya kesetaraan, serta memulai untuk merubah stigma negatif tentang perbedaan gender.

0 Komentar