Homo Homini
socius,
manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya sehingga mengindikasikan bahwa
manusia tidak bisa terlepas dari kegiatan social. Sejak akhir tahun 2019
kegiatan tersebut harus dibatasi karena adanya corona virus desease
(COVID- 19) pasalnya segala aspek kehidupan tidak bisa terlepas dari kata
social khususnya dalam bidang pendidikan. Akhirnya pada
bulan Juli 2020 banyak daerah yang mulai menerapkan New
Normal Style yang mana kita diperbolehkan untuk melakukan kegiatan yang
seperti biasanya dengan tetap mengikuti protocol kesehatan.
Dunia
pendidikan Indonesia saat ini mengalami perubahan yang sangat drastis. Dimana
kegiatan belajar mengajar biasanya dilakukan secara tatap muka berubah dengan kegiatan yang bersifat Online Learning. Hal ini
dilakukan demi menekan penyebaran COVID-19 di Indonesia yang tak kunjung turun,
Namun apakah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara Online Learning
selama ini sudah mencapai indicator dan tujuan pembelajaran yang sudah
ditetapkan?
Beberapa riset telah dikemukakan bahwa kendala terbesar pembelajaran Online
Learning yang dialami oleh peserta didik yakni kesenjangan digital (digital
divide). Kesenjangan digital didefinisikan OECD sebagai kesenjangan antara
individu, bisnis, maupun rumah tangga dalam mengakses teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) dan penggunaan internet. Apalagi daerah daerah
pelosok yang infrastuktur pendidikan dan internetnya masuk kedalam kategori
kurang memadai. Kendala selanjutnya adalah kesenjangan Keterampilan,
kesenjangan keterampilan tidak hanya dialami peserta didik namun juga pendidik,
Keterampilan
konten berkaitan dengan kemampuan mencari dan mengolah informasi, mendesain
atau membuat produk tertentu. Hal ini berkaitan erat dengan partisipasi digital
dan pendidikan, secara umum penggunaan perangkat TIK (laptop, tablet, dan
telepon pintar) lebih banyak digunakan untuk fungsi komunikasi.
Menteri Pendidikan sendiri telah memberikan solusi untuk mengatasi hal
tersebut diantaranya dengan adanya pelatihan guru, bekerja sama dengan pihak
TVRI untuk
memberikan akses lebih ke peserta didik terkait materi pembelajaran dengan tujuan meringankan kesenjangan kesenjangan yang ada, dan
sebagainya. Namun ada solusi lain yang patut dicoba yakni KBM (kegiatan
belajar mengajar) Door to Door. KBM Door to Door sendiri memanfaatkan quarantine
bubble menjadi dunia pendidikan mereka. Jika dalam suatu desa tidak ada yang positif
terhadap COVID-19 bisa dilakukan dalam lingkup desa, atau dikerucutkan
lagi hingga lingkup RT/RW. Dikhawatirkan ketika
kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara full Online Learning
membuat peserta didik akan menjadi pecandu elektronik, anti social, dan apatis
terhadap lingkungannya.
Pada dasarnya kebanyakan pondok pesantren saat ini sudah mulai membangun
quarantine bubble mereka, dengan mengembalikan sebagian santri kepondok untuk
melaksanakan kegiatan belajar mengajar agama seperti sedia kala. Hal ini
mengindikasikan bahwa pentingnya tatap muka dalam kegiatan belajar, karena ada
hal yang tidak bisa tersalurkan melalu Online Learning, yakni NILAI, seperti
proses pendewasaan sosial, budaya, etika, dan moral yang hanya bisa didapatkan
dengan interaksi sosial di suatu area pendidikan.
Sekretaris 1 FORMABU
Selengkapnya cek di
Channel Youtube kami FORMABU OFFICIAL
Silahkan Order Buku
buku lainnya
dihalaman Index
Website www.FORMABU.com


0 Komentar