Ticker

6/recent/ticker-posts

Ada Apa Dengan Corona

 

Terhitung sejak awal tahun ini, dunia digegerkan dengan sebuah penyakit yang tiba-tiba menyerang hampir seluruh jumlah penduduk di Kota Wuhan China. Penyakit tersebut berasal dari sebuah virus yang bernama 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV). Virus ini mendadak menjadi teror bagi seluruh warga dunia, terutama setelah merenggut nyawa ratusan orang hanya dalam jangka waktu dua pekan. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah virus ini terus mencari mangsa sedangkan penawarnya belum diketemukan. Dilansir dari Assian Nikkei Review berita tentang kemunculan virus tersebut sempat membuat masyarakat Tiongkok resah sebab saat munculnya kabar tersebut bertepatan dengan musim mudik dalam rangka memperingati Tahun Baru Imlek. Virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan. Di pasar hewan tersebut juga menjual aneka hewan liar untuk dikonsumsi. Para peneliti hampir dapat memastikan jika virus tersebut berasal beberapa hewan liar yang dijual di pasar tersebut. Orang yang pertama kali terpapar oleh virus tersebut diyakini adalah para pedagang yang menjual aneka hewan liar itu. Jadi penularan virus tersebut berasal dari hewan ke hewan, kemudian dari hewan ke manusia.

Kementerian Kesehatan juga telah menyatakan bahwa, virus corona yang telah menular ke manusia bisa menyebabkan gangguang pernafasan. Gejalanya bisa seperti flu biasa, seperti batuk kering, demam, bahkan sesak nafas. Namun pada kasus ini, penderita akan mengalami demam yang agak tinggi dibandingkan dengan penyakit flu pada umumnya, yang bisa membuat suhu tubuh menjadi naik diatas angka 38 derajat celcius. Jika tidak dilakukan pemeriksaan secara teliti, maka tenaga medis akan sulit membedakan apakah pasien tersebut mengalami flu biasa atau sudah terpapar virus corona. Sebab gejala umum pada pengidap virus ini sama seperti dengan gejala penyakit flu biasa. Dilansir dari IDN Times, ada lima cara penularan virus corona dari manusia ke manusia. Pertama, dari cairan: air dapat membawa virus dari pasien ke orang lain yang berada pada jarak satu meter. Air yang dimaksud berupa cairan yang keluar pada saat bersin, batuk, atau berbicara. Kedua, transmisi dari udara: virus corona dapat menyebar dari jarak jauh melalui udara. Cara ini sama dengan cara virus flu, SARS, variola, dan norovirus menular dari satu orang ke orang lainnya. Ketiga, trasnmisi dari hewan: orang yang menjual, mengolah, mendistribusikan hewan liar tersebut dapat tertular virus melalui kontak dengan hewan tersebut. Kelima, kontak dekat dengan pasien: keluarga, orang yang tinggal serumah, tenaga medis, atau orang yang pernah dekat dengan pasien, memiliki potensi besar tertular virus tersebut. Masa inkubasi virus corona paling pendek berlangsung selama dua hingga tiga hari, sedangkan paling lama bisa sampai 10 hingga 12 hari. Ini adalah rentang waktu yang dibutuhkan corona untuk menjangkit dan menampakkan gejala-gejala awal. Dalam masa tersebut corona masih bisa menular ke orang lain lain, sehingga sulit mendeteksinya. Menurut riset, virus corona sensitif terhadap suhu udara setidaknya 56 derajat celcius selama waktu 30 menit. Selain itu juga bisa dinonaktifkan dengan eter, alkohol 75 persen, desinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat, dan kloroform. Pada awal kemunculannya yang membuat heboh, virus ini telah merenggut empat orang saat 2 hari Pemerintah Tiongkok menutup Kota Wuhan. Dan terus bertambah hingga Tiongkok ditetapkan sebagai negara dengan pengidap virus corona terbesar selama rentang waktu antara bulan Januari hingga Maret tahun 2020. Pada saat itu Pemerintah Tiongkok menutup total atau melakukan lockdown terhadap seluruh kegiatan di negaranya. Dari cepatnya jumlah masyarakat Tiongkok yang terjangkit, memicu beberapa negara menarik pulang warga negaranya, termasuk juga Indonesia. Tercatat, Indonesia telah memulangkan 238 WNI dari Provinsi Hubei dan para WNI langsung dikarantina dan menjalani observasi selama dua pekan di Natuna, Kepulauan Riau.

 

Corona Jalan-Jalan Ke Luar Negeri

Setelah beberapa lama virus ini berkutat pada daerah asalnya dan mulai menggerogoti satu persatu nyawa warganya, kini tiba saatnya virus yang satu ini menjelajahi bagian-bagian lain dipenjuru dunia. Dilansir dari CNN, tercatat pada tanggal 13 Januari 2020 Pemerintah Thailand melaporkan kasus infeksi yang disebabkan oleh virus corona. Kasus pertama yang terinfeksi berasal dari seseorang yang baru tiba dari Kota Wuhan. Disusul pada tanggal 16 Januari 2020 Pemerintah Jepang mengumumkan salah satu warganya telah terinfeksi virus corona, salah satu warga tersebut berjenis kelamin laki-laki dan baru saja melakukan perjalanan dari Kota Wuhan. Virus ini telah tercatat sangat cepat penyebarannya melaluia manusia-manusia yang sebelumnya berada di Tiongkok kembali ke negaranya masing-masing. Merekalah yang menjadi carrier virus tersebut. Pada kurun waktu awal hingga akhir Januari, beberapa negara sudah mulai memasang kuda-kuda untuk mencegah virus ini masuk ke negaranya. Namun, persebaran manusia-manusia ini sangat sulit dibendung. Pergerakan manusia yang keluar dari Tiongkok begitu masif sehingga sangat sulit untuk melakukan pengecekan dengan teliti. Hingga pada akhirnya tanggal 30 Januari 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa wabah tersebut menjadi Darurat Kesehatan Internasional dari Kepedulian Internasional. WHO menyebutkan, virus corona telah menyebar ke 18 negara. Menurut WHO data penyebaran ini telah meningkat yang sebelumnya hanya 15 negara. Ketika sama-sama mengamati pola penyebaran virus ini yang semula berasal dari Tiongkok, kemudian bisa menyebar ke bebrapa negara, akan ditemukan sebuah garis simetris. Garis yang bertuliskan kata ‘manusia’. Garis inilah yang menyeret seluruh rentetan peristiwa yang semula bertelur di Wuhan kemudian bisa beranak pinak ke Bangkok, Tokyo, Manila bahkan hingga sampai ke Jenewa, Swiss tempat dimana WHO tinggal.

Dalam konteks ini, tiada maksud untuk mendeskretkan manusia, sebab jika hal itu terjadi, sama saja akan menolak hukum alam yang mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Apalagi jika meninjau status Tiongkok yang beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kiblat ekonomi dunia. Banyak investor yang rela membenamkan angka-angkanya sedalam Laut China Selatan. Dan banyak pula pengusaha pengusaha Tiongkok yang meniru gaya Marcopolo untuk menjelajahi dunia demi mengembangkan sektor perekonomiannya. Hal itu akan memicu pergerakan manusia yang tidak sedikit dan berlangsung secara terus menerus. Baik yang keluar ataupun menuju Tiongkok. Belum lagi pergerakan manusia yang berasal dari sektor pendidikan. Tidak sedikit pula beberapa anak muda di beberapa negara memilih untuk menempuh pendidikan di negeri rintisan Mao Zedong ini. Benar memang jika saat awal mula virus ini muncul di Wuhan beberapa negara telah menarik mahasiswa untuk pulang ke daerah asalnya. Namun, tidak menutup kemungkinan para mahasiswa itu terjangkit namun ketika sampai di negaranya belum menampakkan gejala-gejala seperti yang telah disebutkan diatas tadi. Mereka-mereka yang telah disebutkan tadi bisa jadi telah menjadi kantung bagasi yang teramat besar, untuk membawa sebuah ‘hadiah’ untuk negaranya. Sekali lagi, tulisan ini tidak sama sekali bertujuan untuk menafikkan atau semata-mata menyalahkan kita sebagai manusia. Sebab biar bagaimanapun, seperti halnya cerita tentang virus yang terdapat dalam buku atau film zombie tidak akan menetap pada satu tempat saja. Ia akan menyebar seperti menyebarnya manusia ke seluruh penjuru dunia. Jika boleh meminjam sedikit perkataan dari Albert Camus bahwa ‘sesungguhnya manusia tidak sama sekali bersalah, karena ia tidak memulai sejarah. Tapi juga tidak sama sekali tanpa salah, karena ia meneruskan sejarah’.

 

Menyapa Indonesia Atas Nama Corona

            Petualangan virus corona bisa dibilang mengalami perjalanan yang cukup singkat dan menyebar dengan sangat cepat. Terhitung dari bulan Desember tahun 2019 hingga tulisan ini diketik, ia masih tetap melanjutkan ekspansinya menjamah negara-negara di hampir seluruh belahan dunia. Bayangkan, sebuah serangan yang tiba-tiba dan tidak terlihat wujudnya berkelibatan disekitar aktivitas manusia. Bahkan negara yang dikatakan sebagai negara adikuasa dunia, Amerika Serikat, tidak luput akan serangan virus ini. Sudah barang pasti, Amerika sebagai pusat ekonomi kapital di dunia ini akan terserang oleh pandemi. Negara adidaya ini telah diprediksi oleh beberapa ahli bahwa sebagian besar warganya tidak bisa luput dari serangan corona, disebabkan oleh pergerakan di dalam negara ini yang terlihat sangat masif. Jika negara-negara penguasa dunia terserang virus ini, maka sudah barang tentu negara-negara lain yang merupakan negara penyokong negara adidaya itu juga akan terkena imbasnya, apalagi jarak negara tersebut dengan Tiongkok tidak terlampau jauh.

            Pada akhirnya virus tersebut menyapa Indonesia atas nama corona, setelah beberapa waktu sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Kesehatan Bapak Terawan Agus Putranto menyatakan bahwa virus ini tidak bisa masuk dan bertahan di Indonesia, dikarenakan beberapa faktor yang salah satunya adalah Indonesia memiliki suhu udara yang cukup panas. Hal ini juga telah diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo pada tanggal 02 Maret 2020 di Istana Kepresidenan. Presiden pada hari itu mengumumkan bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara yang positif corona. Orang yang terpapar pertama kali itu adalah seorang ibu berusia 64 tahun dan putrinya yang berusia 31 tahun. keduanya diduga tertular karena melakukan kontak dengan salah satu warga Jepang yang sedang berkunjung ke Indonesia.  Warga Jepang itu terdeteksi corona setelah meninggalkan Indonesia dan berkunjung ke Malaysia. Dalam artian warga Jepang tersebut baru diketahui mengidap corona setelah diperiksa di Malaysia. Menteri Kesehatan juga menyebutkan bahwa kedua WNI itu bertempat tinggal di daerah Depok dan telah dirawat di RS Sulianti Saroso Jakarta Utara. Saat tulisan ini mulai dituangkan, kedua pasien tersebut telah dinyatakan sembuh, dan dalam kurun waktu satu bulan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, jumlah orang yang positif corona sudah menyentuh angka 10.843 kasus, 831 diantaranya meninggal dunia, 1.665 kasus dinyatakan sembuh, dan 8.347 sisanya masih dalam perawatan. Angka yang bertambah begitu pesat dan belum ada tanda penurunan.

 

Seputar Karantina dan Harapan

            Mari kita cukupkan pembahasan tentang angka-angka korban yang mengerikan itu. Sebab, saya yakin ketika kalian membaca paragraf ini, kalian telah merasa jenuh melihat angka-angka yang bertebaran di segala jenis media. Mungkin diantara kalian juga sudah tidak bergairah menyimak pemberitaan yang hanya berisi tentang ketakutan. Yang perlu diingat adalah saat mengalami kondisi seperti ini selain kita semua harus menjaga kesehatan, kita juga harus tetap menjaga kewarasan.

            Semenjak pemerintah menjatuhi vonis positif corona kepada Indonesia, saat itu pula pemerintah mulai menyusun beberapa protokol kesehatan yang harus kita patuhi bersama. Diantara kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah lockdown, darurat sipil, karantina, social distancing, pshycal distancing, atau yang terakhir muncul yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Secara keseluruhan istilah-istilah tersebut mengerucut pada satu makna tunggal, nyepi. Membatasi kegiatan-kegiatan kita guna mencegah meluasnya virus corona. Himbauan demi himbauan juga telah diluncurkan pemerintah. Mulai dari menjaga kebersihan, rajin mencuci tangan, hingga memakai masker jika terpaksa harus melakukan kegiatan diluar. Beberapa protokol kesehatan itu juga tidak bisa dikatakan bersih dari masalah. Jika kita memandang secara maknawi beberapa protokol tersebut, hanya akan mengakar pada tujuan untuk menjaga kesehatan semata. Padahal kita sama-sama tahu, sumber kesehatan paling utama di negara berkembang adalah uang. Protokol kesehatan ini tak luput dari pro dan kontra. Saya mengistilahkan bahwa ‘pegawai negeri sedang menggelendang, dan para buruh akan menggelandang’ terhadap kebijakan atau himbauan pemerintah itu tadi. Diakui atau tidak memang kenyataanya seperti itu. Ditemukannya beberapa kasus Pemutusan Hubungan Kerja yang beberapa hari ini melonjak, menjadi bukti pembenaran istilah tersebut. Bahkan beberapa buruh ibu kota yang telah di PHK memutuskan untuk pulang kampung, karena di ibu kota sudah tidak ada lagi yang bisa membuat dapur mereka ngebul.

            Terlepas daripada soal polemik dan kecemburuan sosial yang terjadi di masyarakat, masa karantina juga menjadi tempat kita untuk menguji diri. Kita yang selama ini cenderung condong pada sikap ekstrover akan diuji kemampuannya untuk berdiam diri beberapa saat. Bagaimana caranya supaya otak dan kreatifitas bisa tetap berputar dengan terbatasnya waktu bersosial. Adapula yang mendadak menjadi pedagang online, dengan membantu menjual produk hasil UMKM dengan alasan yang cukup idealis yakni membantu perekonomian negara yang tengah dirundung wabah. Ada yang tetap harus menyelesaikan laporan meski sudah ditetapkan sistem Work From Home. Para mahasiswa juga kalang kabut mengatur keuangan untuk pembelian kuota internet selama kuliah daring berlangsung. Bahkan ada yang harus menunda pernikahan karena Kementerian Agama telah menutup pendaftaran nikah sampai akhir bulan Mei.

            Masa karantina seperti ini akan menyimpan sebuah cerita unik dalam diri kita masing-masing. Dan selama masa pingitan yang tak tentu akhir ini, dalam diri kita sedang tersimpan beberapa list keinginan ataupun harapan-harapan. Yang sedang menjalin Long Distance Relationship sudah barang pasti memilik cita-cita untuk lekas bertemu dengan sang kekasih. Untuk yang gemar mendaki gunung mungkin sudah mempersiapkan target ketinggian yang akan dicapai. Bagi yang terbiasa berdiskusi mengelilingi meja warung kopi sudah pasti ingin segera mengecap pahitnya kisah yang menyatu dalam ampas kopi. Semua orang agaknya telah mempersiapkan bekal untuk mewujudkan harapannya pasca pandemi. Yang menjadi tanda tanya adalah akan ‘keluar rumah’ seperti apa kita nanti? Apakah kita akan menjadi manusia yang berbeda dari biasanya, atau tetap menjadi sosok semula. Apapun itu, harapan-harapan yang telah ada tetaplah dirawat dan disemai. Harapan-harapan itu akan sedikit menjadi obat ketakutan kita. Setelah pandemi ini berakhir, mari bersama wujudkan harapan itu tanpa melupakan cinta dan syukur kepada semesta.

            Saya sendiri memiliki sebuah harapan kecil. Harapan dari seorang hamba penghuni semesta yang tak kunjung berbuat besar. Ketika kalian akan selesai membaca tulisan ini, kita semua masih sehat seperti sedia kala, dan kata ‘corona’ yang selama ini kita takutkan, ah.. semoga kita sudah melupakannya.

 

Demisioner Ketua Umum FORMABU

Selengkapnya cek di Channel Youtube kami FORMABU OFFICIAL
Silahkan Order Buku buku lainnya 
dihalaman Index Website www.FORMABU.com

 

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement