Ticker

6/recent/ticker-posts

Selamat Hari Pers Nasional 2017

Pers adalah saksi sejarah yang menemani lika liku perjuangan bangsa. Perjuangan kemerdekaan bangsa tak lepas dari peran urgen pers yang mengawal pemikiran rakyat pada pergolakan perlawanan feodalisme para penjajah. Pers dengan arif menjadi jembatan rakyat untuk mengantarkan pemikirannya melawan setiap arus penjajahan yang digalakkan para penginjak harga diri bangsa.

Pers dalam sejarahnya yang pasang surut menjadi awal eksistensi pemikiran para pahlawan pahlawan bangsa yang mungkin hanya dikenal secara sempit dalam secarik kertas lusuh tulisannya. Mulai sejak era penjajahan Jepang dan Belanda yang murni menjadi jembatan kemerdekaan pemikiran, momentum orde baru yang menjadi kambing hitam pembredelannya, reformasi yang menggaungkan kebebasannya, hingga dekade ke -7 kemerdekaan Indonesia dan sekarang yang menjadi cambuk kebebasan berpikir dan pelecut pergolakan supremasi media dalam mengadili serta memberi cahaya petunjuk bangsa, pers selalu dalam dilema sistematisnya. Ketika pers dituntut menjadi pihak yang netral, maka di sisi lain pers akan menjadi jalan mulus atau pelicin bagi pihak yang ingin menyetirnya demi keuntungan elite sebagian orang saja. Netralitas pers yang sering diterjemahkan menjadi mekanisme bertahan golongan yang pandai mengobok-oboknya, seakan menjadi bukti netralitasnya hanya untuk menyembunyikan pihak yang tidak netral menjadi pihak yang jumawa paling netral. Netralitas pers sering dipertanyakan dengan keberpihakannya secara halus tanpa  disadari segolongan bangsa yang makin mudah terprovokasi dengan berita harian rakyat yang panas dingin memaki otak otak kosong yang harus diisi dengan kesadaran memenuhi pengetahuan dan ketrampilan membawai sebuah realita faktual. Pers seakan menjadi pihak kedua setelah ada pihak yang dianggap lebih bisa menetralkan suasana di hati rakyat setelah kegagalan rakyat sendiri memahami bagaimana keberpihakan pers berpengaruh pada perkembangan perilaku berpikir rakyat kecil kita yang perlu pendidikan lebih tinggi untuk memahami polemik bangsa. Pers di Indonesia seharusnya menjadi pihak yang pertama menjadi pemimpin terdepan dalam mengawal netralitas realita bangsa yang telah dicampuradukkan dengan kepentingan orang asing yang benar-benar asing untuk dikenali oleh rakyat kecil kita. Jangan sampai pers di Indonesia menjadi pihak ketiga yang mudah dilebur dengan kepentingan pribadi-golongan dan menjawab setiap problematika bangsa dengan jawaban siri netralitasnya yang justru akan dipertanyakan anak-cucu kita kelak kala melihat carut marut bangsa yang sangat mudah diadu domba.

Akhirul kalam, pers akan selalu menjadi garda terdepan di Indonesia dalam mengawal setiap lini masa selama orang-orang kita tak akan berhenti menulis. Semoga pers ke depan dan seterusnya menjadi jembatan bagi bangsa Indonesia yang menghubungkan setiap masa sehingga dapat terjalin sejarah kita yang indah dan masa depan bangsa yang cerah. Selamat Hari Pers Nasional yang ke-69.
(M. Arvani Zakky)

Segenap Tim Pers Forum Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum mengucapkan "Selamat Hari Pers Nasional 2017"
Malang, 9 Februari

Reactions

Posting Komentar

1 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement