Sejak terbentuknya FORMABU saya pribadi sudah cukup meyakini akan ada ketimpangan di dalamnya. Beberapa hal yang terwujud pasti adalah pertama keraguan bahwa FORMABU bisa memenuhi ekspektasi yang diembankan, kedua apakah FORMABU akan benar-benar dihidupi oleh para manusia di dalamnya.
Membicarakan organisasi tanpa ekspektasi bagai ibu-ibu sedang membeli sayur tanpa gosip, kurang greget, kurang syahdu. Jika kita kembali flash back pada masa mulai dimunculkannya kembali FORMABU ada beberapa ekspektasi. FORMABU yang nantinya menjadi organisasi pusat diharapkan dapat memberikan fasilitas berupa kejelasan birokrasi dalam hal yang berkaitan dengan urusan ke pihak Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU). Kedua diharapkan FORMABU dapat menjadi penyambung lidah aspirasi para organisasi mahasiswa alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU).
Dua aspirasi ini cukup masuk akal dan realistis untuk dilakukan, lagi-lagi jika kita menjadikan ini di panggung ibu-ibu kampung. Beli sayur sambil gosip kurang mantap jika tak ditambahi ‘bumbu’ sebagai penyedap. Ekspektasi yang datang menjadi meningkat seiring berjalannya waktu. Titik kenaikannya adalah pasca dimulainya Musyawarah Besar dan mulai dilibatkannya beberapa pengurus FORMABU dalam kepanitiaan beberapa kegiatan di YPPBU. Dari hasil Musyawarah Besar sudah disepakati beberapa hal, diantaranya pembuatan rekening organisasi, dan keterlibatan FORMABU dalam beberapa acara YPPBU. Sayangnya ekspektasi baru semacam beberapa wacana itu tidak dapat dipenuhi dengan maksimal, apalagi wacana mengenai pembentukan rekening organisasi.
Dalam kunjungan saya ke kabupaten Malang beberapa waktu yang lalu, bolo Ketua Umum sempat berbicara dengan saya mengenai beberapa hal. Dari pembicaraan kami di warung Kidjang beberapa hal yang menjadi sorotan kami adalah “FORMABU kok koyo kuburan yo cut (Panggilan akrab saya kepada ketua umum)? program kerja e awak dewe ambek beberapa wacana akeh seng terbengkalai” .”Aku dewe yo mumet ndo(Panggilan akrab saya), garai seng cover wacana ambek beberapa program kerja tak garap dewe.”
Jujur saja saya merasa bersalah atas ungkapan ketua umum, hal yang harus saya akui dari ungkapan tersebut adalah peran ketua umum sudah mirip obat CTM, obat segala penyakit. Model kerja seperti ini seharusnya tidak terjadi di dalam organisasi seperti FORMABU yang notabenenya adalah organisasi pusat. Tapi dari situ timbul pertanyaan kami (Saya dan ketua umum) apa penyebab hal itu? Hipotesis kami berdua menyatakan bahwa rasa kepemilikan para pengurus dan anggota FORMABU, elektabilitas FORMABU dan ketimpangan antara ekspektasi dan kemampuan FORMABU untuk memenuhinya.
Saya sampai berpikir, apakah mungkin kehadiran FORMABU hanya menjadi beban? Atau bahkan kehadiran FORMABU tidak diperdulikan? Saya berencana melakukan jajak pendapat kepada organisasi-organisasi di bawah naungan FORMABU untuk mengetauhi dan memberikan validitas kepada hipotesa kami di atas. Jika kondisi seperti ini –laa yamutu wa la yahya- tetap dibiarkan. Sayapribadi merasa memiliki tanggungjawa moral untuk mencoba mencari jawaban, kalau memang FORMABU masih dianggap perlu dan diperlukan. Jika FORMABU masih bisa hidup, dihidupi dan menghidupi. Maka masih pantaslah untuk hidup. Jika tidak? Mari kita cari solusi bersamanya.
Jember, 17 Mei 2016
Ketua 1 FORMABU
F.A. Nuzuliansyah

0 Komentar