Ticker

6/recent/ticker-posts

Pengarahan dan Komunikasi Dakwah

    Pengarahan merupakan salah satu dari unsur-unsur manajemen secara umum, hal inilah yang pada akhirnya membuat unsur ini dianggap sebagai salah satu unsur yang urgent dalam sebuah proses menajemen termasuk dalam manajemen dakwah sendiri. Oleh karena itullah perlu adanya sebuah pemahaman yang mendalam tentang bagaimana memberi suatu pengarahan secara baik dan tepat sasaran, sehingga tujuan dari suatu hal direncanakan dari awal dapat tercapai dan terealisasi.

    George R Terry seorang tokoh manajemen menyebut pengarahan dengan istilah Actualinng. Menurutnya Actuating sendiri merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran organisasi (kelompok) dan sasaran anggota-anggota organisasi (kelompok) tersebut.

    Menurut George R. Terry sebelum melewati tahapan Actuating seorang manajer perlu melakukan tahapan Plaining (    Perencanaan), tahap ini seorang manajer dituntut harus mempunyai sebuah pemikiran kedepan tentang tujuan serta langkah-langkah dan prosedur-prosedur yang harus ditempuhm setelah melalui tahapan awal inilah seorang manajer memasuki tahapan baru yaitu tahapan Organizing (pengorganisasian), barulah setelah melewati  tahapan kedua ini seorang manajer akan memasuki tahapan yang utama dalam sebuah proses manajemen, dalam hal ini yaitu tahapan Actuating. Setelah tahapan ini terealisasi maka seorang manajer akan memasuki tahapan terakhir yaitu Controling atau dalam kata lain memberi penilaian / evaluasi.

    Tahapan Actuating merupakan hal yang vital bagi proses berjalannya suatu manajemen, hal ini dikarenakan sukses dan lancarnya suatu kegiatan yang telah direncannakan tergantung pada tahapan ini. Jika dalam penerapannya amburadul, kacau, dan tidak terstruktur dengan baik maka suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya tentu akan terancam tidak terealisasi atau terealisasi namun melenceng dari suatu target yang diinginkan. Selain itu ke-vitalan unsur ini didasari oleh fitrah manusia bahwa manusia merupakan mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial manusia tentu membutuhkan bantuan sesamanya dalam segala bentuk kehidupan termasuk dalam manajemen dakwah sendiri. Hampir  tak ada manusia yang dapat menjadikan dirinya tanpa bantuan orang lain. Demikian pula, tak ada bawahan (anggota) yang mampu bekerja tanpa bantuan dari orang lain (manajer/pemimpin). Hampir seluruh hidupnya, dalam suatu kelompok (organisasi), anggota selalu perlu sebuah petunjuk dan bimbingan dari pimpinan suatu sistem kelompok /organisasi, baik secara langsung, maupun secara norma yang tertulis.   
    Sebenarnya selain mempunyai arti Pengarahan, dalam Actuating juga mempunyai arti penggerakan. Kedua hal tersebut sebenarnya tidak bisa dipisahkan mengingat dalam suatu proses penggerakan juga memerlukan sebuah pengawasan. Kesinambungan kedua hal inilah yang membuat George R. Terry mengambil istilah Actuating dimana didalamnya terdapat unsur pengarahan dan penggerakan.
    Dalam proses dakwah, penggerakan merupakan realisasi rill yang di wujudkan dalam kegiatan operasional. Penggerakan dakwah itu merupakan fungsi yang secara langsung meminta pengorbanan setiap dai untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana ditentukan oleh leader dakwah itu. Penggerakan dakwah sebagai mekanisme prosesing merupakan kegiatan nyata dalam usaha mewujudkan tujuan dakwah yang telah dirumuskan sebelumnya.  Oleh karena itulah dalam menerapkan proses penggerakan perlu adanya pengarahan dan motivasi serta komunikasi yang baik oleh leader  dakwah.
    Sama halnya dengan langkah setiap orang dalam kehidupannya, pengarahan pun dioperasikan memiliki tujuann tertentu. Secara umum tujuan suatu pengarahan yang ingin dicapai pada setiap organisasi / kelompok adalah sebagai berikut:
1.    Menjamin Kontinuitas Perencanaan
Suatu perencanaan ditetapkan untuk dijadikan pedoman normatif dalam pencapaian tujuan. Pelaksanaan kerja yang baik akan sesuai dengan rencana dan tujuan yang ditentukan sebelumnya. Adanya suatu pengarahan dilakukan untuk menjamin kelangsungan perencanaan. Artinya, perencanaan yang yelah ditetapkan meskipun memiliki sifat fleksibel namun prinsip yang terkanung didalamnya harus tetap dijamin kontitunitasnya.


2.    Membudayakan prosedur standar.
Melalui pengarahan diharapkan bahwa prosedur kerja yang telah ditetapkan sebelumnya dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga lambat laun akan menjadi sebuah kebiasaan. Apabila sudah menjadi kebiasaan diharapkan dapat mebudaya dilingkungan sistem itu sendiri.
3.    Membina disiplin kerja
Tujuan lain perlunya pengarahan adalah agar terbiasa disiplin kerja dilingkungan organisasi. Disiplin dapat diartikan sebagai suatu sikap mental yang menyatu dalam kehidupan yang menyatu dalam kehidupan yang mengandung pemahaman terhadap norma, nilai, dan peraturan alam dalam melakanakan hak dan kewajibanya.
4.     Membina motivasi yang terarah
Penerapan fungsi pngarahan juga memiliki tujuan untuk membina motivasi para anggota yang terarah. Maksudnya adalah agar para anggota dapat melakanakan pekarjaan sambil dibimbing  dan diarahkan untuk menghindari kesalahan prosedur yang dikhawatirkan berdampak pada terealisasinya suatu program / kegiatan.

    Proses pengarahan (Actuating) berkaitan erat dengan sebuah langkah yang harus ditempuh / diakukan secara  bersama. Oleh karena itu dalam mengarahkan sebuah langkah seorang manajer tentu harus mempertimbankan mana langkah yang baik dan mana langkah yang tidak baik, hal ini selain untuk pertimbangan tercapainya tujuan bersama secara efektif juga sebagai perwujudan taqwa kepada Allah SWT, sebagaimana Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104

 “ dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Kaitannya dengan actuating surat Ali Imron ayat 104 mengandung beberapa term yang termasuk dalam isu-isu manajemen dakwah. Pertama adalah kata ummatun, kata ummah merujuk pada teamwork atau kelompok yang terorganisir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari manajemen. Kedua adalah kata yad’uu yang berarti mengajak, dalam hal ini adalah mengajak pada sebuah tujuan yang akan dicapai bersama. Ketiga adalah kata ya’muruuna,memberikan dan menjelaskan perintah untuk melaksanakan tujuan-tujuan organisasi yang telah dituangkan dalam sebuah perencanaan. Ketiga adalah kata yanhauna, selain memberikan perintah actuating juga mencakup pada koreksi atau memberikan rambu-rambu mengenai hal-hal yang harus dicegah sebagaimana dalam kata yanhauna.
    Perlu ditekankan lagi bahwa permasalahan pengarahan (Actuating) berkaitan erat dengan sesama manusia, hal inilah yang membuat unsur ini menjadi unsur yang paling kompleks dan paling sulit diterapkan dalam sebuah proses manajemen. Penggerakan manusia merupakan hal yang sulit, mengingat setiap manusia tentu memiliki perasaan, fikiran, harga diri, serta tujuan hidup yang berbeda. Oleh karena itulah dalam sebuah proses pengarahan yang dilakukan oleh leader membutuhkan sebuah Komunikasi yang baik dan terarah.
    Komunikasi merupakan sesuatu yang urgent dalam kehidupan umat manusia. Oleh karenanya, kedudukan komunikasi dalam islam menapat tekanan yang cukup kuat bagi manusia sebagai anggota masyarakat dan sebagai mahluk tuhan. Dalam Al Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menggambarkan tentang proses komunikasi. Salah satu diantaranya adalah dialog yang terjadi pertama kali anatar Allah SWT, malaikat, dan manusia. Dijelaskan dalam surat Al Baqarah : 31-33
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana’
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS Al Baqarah: 31-33)

    Komunikasi dalam bahasa Inggris Communication berawal dari bahasa latin Communicatio yang berarti “sama makna”. Secara sederhana Komunikasi dapat didefiniksikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan akhibat tertentu. Kegiatan komunkasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana.

    Komunikasi merupakan hal yang urgen dalam sebuah pengarahan pada sebuah proses manajemen, kesalahan sedikit saja yang timbul dari kesalahan komunikasi atau karena komunikasi yang kurang sempurna tentu akan berdampak pada efektivitas program kerja yangah dirancang sebelumnya, mengingat dalam pengarahan berhadapan langsung dengan manusia dimana komunikasi yang baik dibutuhkan untuk menyambung sebuah pemahaman terhadap job deskripsi setiap individu.

    Secara sederhana, dapat ditegaskan bahwa objek kajian komunikasi dakwah adalah peran dan fungsi komunikasi yang terlibat dalam proses dakwah. Hal ini dapat dijelaskan berangkat dari objek material komunikasi dakwah adalah manusia sebagai sasaran dakwah. Sedangkan objek formalnya adalah segala proses komunikasi dapat berperan maksimal dalam pelaksanaan dakwah. Dengan memahami komunikasi dakwah, maka kita dapat menentukan langkah-langkah strategis untuk mempersiapkan diri menghadapi setiap tantangan dalam proses berdakwah, mengetahui dampak negatif, dan menghindarinya.

    Howarld D Lasswel mengemukakan tiga alasan daar yang menjadi penyebab mengapa manusia berkomunikasi: Pertama, hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya, Kedua komunikasi merupakan upaya manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan Ketiga merupakan upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi.

    Dalam Al-Qur’an kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yaitu:
  1. Qaulan Adhim, Allah berfirman dalam surat Al Isra: 40;  “ Maka Apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara Para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (QS. Al Isra:40).  Melalui ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam berkomunikasi endanya kita menghindari kata-kata yang mengandung kebohongan, atau tuduhan yang sama sekali tidak mendasar.
  2. Qaulan Baligha (tepat sasaran, komunikatif, to the point, mudah dimengerti), Allah berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 63: “   mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (QS An Nisa:63)
  3.  Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik), Allah berfirman dalam surat Al Ahzab 32: “  Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinyadan ucapkanlah Perkataan yang baik,” (QS AL Ahzab: 27)
  4. Qaulan Karima (perkataan yang mulia). Firman Allah surat Al Isra ayat 23: “ dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia” (QS Al Isra:23).
  5.  Qaulan Layyinan (perkataan yang lembut). Firman Allah surat Thaha 43-44:  “Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas” (QS Thaha: 43).“ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS Thaha:44).
  6. Qaulan Maysura (perkataan yang ringan). Firman Allah surat Isra:28:  “dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas.” (QS. Al Isra:28)
(red)


Reactions

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement