Ticker

6/recent/ticker-posts

Hari Kasih Sayang Sebuah Ilusi


     Hari kasih sayang telah ramai menjadi sebuah perbincangan pada hampir di semua kalangan beberapa waktu yang lalu. Banyak manusia modern yang terkonstruk pikirannya bahwa hari kasih sayang merupakan sebuah momentum yang jatuh pada tanggal 14 Februari di setiap tahun masehi. Konstruksi sosial digambarkan oleh Peter L. Burger dan Thomas Lukman sebagai proses sosial yang melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptakan secara terus menerus realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Sampainya pengetahuan bahwa hari kasih sayang di dunia jatuh pada 14 Februari juga merupakan sebuah proses sosial yang dilakukan secara terus menerus. Seiring berjalannya waktu maka manusia menganggap bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang tepat dan ideal secara umum. Sehingga manusia terkonstruk untuk turut serta hadir dalam perayaan hari kasih sayang dan bertindak dengan berbagai macam cara untuk merayakannya. Pada satu hari itu pun dipenuhi dengan beberapa hal yang wajib ada seperti cokelat, bunga, boneka, dan berbagai macam bentuk hadiah lainnya.

     Selama ini, sejak tahun 496, tanggal 14 Februari ditetapkan sebagai hari Santo Valentine oleh Paus Gelasius I. Tanggal 14 Februari dianggap sebagai momentum yang pas unuk mencurahkan segala isi hati dan kasih sayang yang dimiliki kepada pasangan atau orang-orang tertentu. Banyak yang terjadi pada hari itu. Mulai dari larisnya rangkaian bunga-bunga yang cantik, berbagai bentuk boneka dengan lambang rasa kasih dan sayangnya, serta macam-macam bentuk cokelat yang digunakan sebagai salah satu media dalam penyampaian rasa sayang yang mendalam. Jangan-jangan hari kasih sayang menjadi salah satu sasaran empuk para kaum kapitalis untuk meraih keuntungan dan mempertebal kantong pribadi mereka masing-masing. Apakah hari kasih sayang menjadi rangkaian dari rencana komrsial pihak-pihak tertentu? Semua bisa saja terjadi dalam hal ini.

     Hari kasih sayang menjadi sebuah momentum yang menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu. Setiap mendekati hari kasih sayang, konsumen-konsumen khususnya remaja dimanjakan dengan banyaknya tawaran pernak pernik di pasaran untuk merayakan hari kasih sayang. Bahkan pihak produsen tidak enggan untuk memberikan tawaran diskon dan paket pembelian dengan harga dan bentuk yang bermacam-macam (Antarasumsel.com). Cara penjualannya beraneka ragam, mulai dari penjualan yang dilakukan secara langsung sampai model penjualan yang dilakukan secara online. Pemberian diskon bukan merupakan sebuah upaya untuk memberikan keringanan kepada konsumen untuk merayakan hari kasih sayang. Seberapa besarpun diskon yang diberikan oleh perusahaan, hal tersebut tidak akan pernah mengurangi keuntungan perusahaan itu sendiri. Mereka adalah kaum kapitalis yang memanfaatkan hari kasih sayang sebagai sebuah momentum mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Ketika kita tururt serta memeriahkan segala bentuk barang yang ditawarkan dengan beraneka ragam bentuk dan harga maka hal yang demikian itu juga sama saja dengan kontribusi kita untuk memberikan keuntungan yang semakin banyak kepada pihak kapitalis. Jika benar demikian, apakah kita tidak sama halnya dengan mengerus perekonomian negara kita sendiri? Bukankah kita sama halnya dengan mendukung negara-negara kita dikuasai perekonomiannya oleh negara lain? Patut kita renungkan bersama.

     Indonesia hanyalah salah satu contoh aktifitas dalam perayaan hari kasih sayang. Di luar sana masih banyak pula negara yang melakukan perayaan dengan cara yang berbeda-beda. Hari kasih sayang di Belanda, 14 Februari menjadi hari paling sibuk di setiap tahunnya. Disana selalu terjadi lelang bunga tersebsar di dunia. Sedikitnya ada 50 juta bunga mawar yang terjual. Di Baghdad, Irak meyakini bahwa pemberian hadiah dan bunga bisa mewujudkan perdamaian dan cinta. Berbeda lagi dengan perayaan hari kasih sayang di Amerika Serikat. Ada sebuah insiden untuk mengajak warga sekitar melakukan aksi bunuh diri demi menghargai dan menghormati datangnya hari kasih sayang, 14 Februari (liputan6.com).

     Peringatan hari kasih sayang diamini oleh sebagian orang sebagai budaya yang wajib terus dilestarikan. Tidak banyak orang yang tahu dan mau tahu terkait esensi dan substansi adanya hari kasih sayang. Aktifitas-aktifitas untuk melakukan perayaan pada hari kasih sayang bisa jadi sebuah trend wilayah sekitar dan merupakan sebuah simbol yang semata-mata diramaikan hanya untuk kesenangan sesaat. Pada masa sekarang ini masih saja banyak kalangan yang hanya menjadi pengikut dari populernya hari kasih sayang karena tidak adanya pemahaman sedikitpun berdasarkan sejarah yang diketahui.  Meskipun demikian, ada pula kalangan yang acuh terhadap keberadaan hari kasih sayang pada tanggal 14 Februari. Ada pula kalangan yang menganggap bahwa 14 Februari bukanlah sebuah waktu yang berhak mempersempit ruang gerak khalayak untuk menganggap adanya hari kasih sayang di dunia.

     Saya menjadi pihak yang menganggap bahwa tidak ada hari kasih sayang di dunia yang terbatas pada satu hari dari ratusan hari dalam kurun waktu selama satu tahun masehi. Hari kasih sayang yang selama ini digambarkan begitu terbatas dan kita tidak menjadi merdeka untuk meluapkannya. Hari kasih sayang yang terbatas hanya pada satu hari, 14 Februari hanya sebuah ilusi. Selama ini manusia hanya melakukan aktifitas-aktifitas yang diyakini sebagai bentuk pemberian rasa sayang pada 14 Februari akibat adanya konstruk yang dilakukan oleh media. Manusia khususnya manusia-manusia modern termakan oleh pemberitaan media yang menyajikan banyak ritual dan aktifitas-aktifitas untuk meluapkan sayang pada hari itu. Bagaimana bisa manusia bersedia untuk dibatasi dengan adanya hari kasih sayang yang tidak satu sejarah yang selama ini beredar. Bagaimana mungkin manusia bersedia untuk diperbudak oleh ritual-ritual yang secara tidak logis telah dikatakan sebagai simbolik dari sebuah rasa kasih dan sayang dari dalam hati.

     Segala bentuk aktifitas yang dikatakan sebagai luapan rasa kasih sayang pada satu hari itu meresahkan dan seakan menimbulkan sebuah keresahan tersendiri pada diri pribadi saya. Peringatan-peringatan yang dilakukan oleh manusia dalam rangka sebagai bentuk peringatan dengan adanya hari kasih sayang saya anggap sebagai hal yang tidak positif apalagi sebagai hal yang membuat tersanjung. Subjektif saya menganggap bahwa manusia saat ini sedang kehilangan rasa percayanya terhadap keberadaan hari kasih sayang. Sehingga mereka meletakkan semua terkait kasih sayang hanya terbatas pada satu waktu itu saja. Dengan adanya satu hari yang ditetapkan sebagai hari kasih sayang maka semakin menunjukkan bahwa manusia sekarang telah jauh kebiasaannya melihat dan melakukan segala hal yang dilakukan pada hari yang diyakini sebagai hari kasih sayang, 14 Februari tersebut. Seolah-olah manusia merasa kagum dan mendewakan satu hari tersebut. Manusia menjadi semakin miskin dengan kemesraan dan kasih sayang karena menganggap akan ada satu hari yang spesial dan bisa diupayakan sebagai satu waktu untuk meluapkan segala bentuk rasa kasih dan sayangnya.

     Hari kasih sayang hanyalah sebagai sebuah ilusi. Bagaimana mugkin manusia hanya menganggap satu hari tertentu sebagai waktu untuk memberikan kasih sayangnya secara utuh kepada orang yang dikasihinya. Bukankah luapan kasih sayang itu justru setiap hari bahkan setiap waktu diberikan kepada mereka yang berhak untuk itu, dengan berbagai macam cara yang tidak harus sama. Bagaimana mungkin manusia hanya ingin mencurahkan segala bentuk perhatiannya pada satu hari itu saja yang bahkan tidak ada satupun orang yang bisa menjamin sejarah yang membentuknya menjadi sebuah alasan untuk mempercayainya. 

By: Miftahul Khoiriyah Al Istiqomah (HIMAJU)
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement