Ticker

6/recent/ticker-posts

Geliat Semangat Berorganisasi Ditengah Kesibukan Berkuliah

    Melihat kembali kenyataan mahasiswa sebagai insan berintelektual tinggi, tak ubahnya kegiatan sehari-hari adalah belajar dan membaca buku. Bagaimana dengan kenyataan sementara ini, secara signifakan hal tersebut sudah tidak lagi menjadi kelaziman bagi diri Mahasiswa akan tetapi menjadi sesuatu yang sangat mahal. Anggapan bahwa berorganisasi sebagai penghambat kuliah kita adalah menjadi sesuatu hal yang tidak menjadi pertimbangan untuk tidak beraktifitas. Sesuatu yang sudah kuno atau hal yang basi. Melihat kenyataan mahasiswa yang notabenennya menjadi seoarang pemuda adalah masih semangat-semangatnya untuk beraktifitas, sehingga pemaksimalan pada tenaga atau energi dapat digunakannya dengan baik.

    Kita ingat bahwa sang presiden juga Bapak proklamator kemerdekaan dengan semangatnya yang menggebu-nggebu menyorakkan “saya hanya butuh seorang pemuda, 10 saja dan akan kuguncang dunia”. Pernyataan ini tidak akan terlontar dengan mudahnya tanpa didasari dengan semangat yang sudah menancap pada bapak proklamator tersebut. Dalam kalangan NahdlatuL Ulama (NU) kita mendapati seorang organisatoris yang handal yaitu K. H. Wahab Chasbullah. Tahukah anda siapakah orang ini? Iya seorang motor penggerak utama sekaligus pendiri organisasi NU itu sendiri. Seseorang yang mencoba mengakomodir seluruh kekuatan yang ada di daerah masing-masing yang selanjutnya membentuk gerakan organisasi masyarakat.

    Sudah sepantasnya kita mencoba untuk memaksimalkan kekuatan yang sudah diberikan oleh sang pencipta. Hal tersebut pun termaktub dalam surat Ar-Rahman, bahkan sering disebut “nikmat manakah yang engkau dustakan”. Dengan demikian sekali lagi sangat disayangkan sekali, bagaimanapun kita tidak berusaha untuk segera memaksimalkan kenikmatan yang sudah diberikan secara gratis terhadap ciptaan yang lemah ini. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melalui organisasi, tergantung bergerak dalam bidang apa. Dalam bidang apapun selama membuat manusia itu menjadi lebih baik dan berkembang maka semakin terlihat hasil dari dia berorganisasi.

    Coba kita melihat keseharian kita, berapa jam yang ada pada satu hari. Berapa juga jam yang kita pergunakan dengan baik pada setiap harinya. Kita kira-kira saja dalam seharinya waktu yang dipergunakan untuk belajar di dalam kelas kurang lebih empat jam, berapakah sisa yang belum dipergunakan dengan baik. Masih banyak bukan, kalau kita tidak mahir untuk dapat mempergunakan waktu itu maka sesuatu yang nihil kita dapatkan. Penyesalan sudah didepan mata, dengan demikian keinginan untuk mengulang waktu yang dulu seharusnya digunakan dengan baik gemar ia dengungkan (andai saja dulu……). Pertanyaan besar kian meruncing didalam hati, pekerjaan apa yang dapat saya lakukan, melihat keterampilan yang juga terbatas.

    Mari sebelum masuk pada ruang lingkup organisasi perlu untuk mawas diri, artinya mencoba untuk mencari kelemahan dan kekuatan diri sendiri (nggerayahi awak’e dewe). Dengan demikian kenal terhadap dirinya menjadi modal dasar untuk menapaki perubahan yang nyata menuju kesuksesan. Pada semester 1, 2 dan 3 mahasiswa dihadapkan pada masalah yang kompleks. Baik adaptasi, perpindahan dari jiwa yang murni senang-senang menapaki pada dunia yang sedikit serius. Hal yang seyogyanya dilakukan adalah penyerapan terhadap informasi apapun, baik keilmuan maupun informasi sebagai penunjang khazanah pengetahuan. Karena pada dasarnya basic ontologis menjadi pemahaman mendasar yang tertanam pada diri seorang mahasiswa untuk perkuatan kognitif. Setelah itu masuk pada semester 4, 5, dan 6, pada jenjang ini kritis menjadi hal yang lumrah jika penguatan kognitif sudah terbentuk dengan baik. Mahasiswa sudah tidak lagi bingung dengan adanya permasalahan yang muncul seacara tiba-tiba baik dalam proses belajarnya maupun juga berorganisasinya. Terkadang kita bingung ketika menghadapi sebuah permasalahan, terutama berkaitan dengan pengetahuan. Hal ini tidak akan muncul jika saja berusaha dengan keras pada jenjang pertama yang disebutkan oleh penulis. Karena banyaknya pengetahuan yang ia dapatkan serta terbentuknya logika seseorang. Lanjut pada jenjang yang terakhir yaitu semester 7 dan 8, ranah ini sudah saatnya pragmatis. Bukan berarti pragmatis yang sifatnya negative oriented. Pragamatis yang dimaksudkan lebih pada pekerjaan dan arah kedepan yang berkaitan dengan profesi yang sesuai dengan keilmuan yang selama itu juga digelutinya.

Oleh : Mohammad Iwan Ihyak Ulumuddin (HIMMABA 2011)
King’s Coffe (14 April 2014)

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement